Minggu, 09 Februari 2014

A girl in the rain


                Di luar sepertinya hujan turun. Ada bunyi gemericik dan nyanyian air yang membentur genting. Ada air yang jatuh menimpa tanah. Menimbulkan  genanngan yang basah berwarna kecoklatan. Hawanya menjadi dingin. Meski tak sedingin perasaan yang hampir mendatar dari semula berbentuk kurva. Ada seorang gadis yang diam-diam menikmati nyanyian hujan. Sendirian. Tersenyum dengan sorot mata menerawang.
                Perasaannya campur aduk. Mereka bilang dia hanya mencintai dirinya sendiri sampai-sampai tak mau mengutarakannya barang sedikit saja. Hatinya bilang perasaannya bukan sesuatu yang bisa diceritakan dengan gamblang. Mereka bilang sudah bukan jamannya kaum perempuan hanya menunggu, tak ada salahnya bicara dahulu. Hatinya bilang ia tak mampu. Mereka bilang perasaan yang dipunyai seorang gadis kepada seorang lelaki tak seharunsya dikatakan. Sebab itu gadis yang berani mengatakannya pastilah punya perasaan yang tulus. Hatinya bilang perasaannya disimpan saja. Gadis itu bimbang. Terdiam dalam kebimbangan dalam detik-detik yang berjalan amat lambat. Hatinya lebih kuat berkuasa rupanya.
                Bibirnya membentuk bulan sabit yang indah dalam bidang horizontal. Matanya menyipit. Ingatannya melambung jauh kepada seorang laki-laki yang selama ini menjadi bunga tidurnya. Setiap gerak-geriknya ia hafal tanpa cacat sedikitpun. Kebiasaan yang tak diketahui orang lainpun dia tahu. Bahkan lagu derap langkahnya ia rekam dengan jelas di kepalanya. Sepertinya wangi laki-laki itu ada di setiap inci udara yang ia hirup.
                Tatapannya terpaku pada objek dinamis yang melintas di hadapannya. Menghentikan kerja otaknya. Melumpuhkan setiap detak jantung serta hela nafas yang harusnya terus berlangsung. Kedua bola matanya lekat pada satu objek yang akrab dengan rentetan senar bernanyi. Serta lubang resonansi yang memantulkan nada dengan sempurna. Tenggorokannya sering kali tercekat melihat laki-laki itu. Lidahnya tak pernah mampu mengeluarkan kata-kata apapun dihadapan laki-laki itu. Hanya sisa-sisa terangnya bulan sabit di bidang horizontal yang tersembunyi dan menyembul ke permukaan dengan jelas. Hanya bulan setengah yang muncul setelah si gadis melihat objek dinamisnya itu.
                 Konspirasi alam yang menjadikannya satu dunia dengan objek dinamisnya berlalu begitu saja. Gadis itu tak pernah merasa punya momen yang tepat untuk memulainya. Gadis itu tak pernah merasa punya keberanian yang cukup buat mengutarakannya. Konspirasi alamnya melekat kuat menghuni satu tempat yang rapi di hidupnya. Sebuah kotak kayu cokelat yang menyimpan semuanya layaknya ingatan. Sebuah kotak kayu cokelat yang menyimpan rapi setiap detik ingatannya akan obejk dinamisnya.
                Hujan turun lebih deras. Objek dinamisnya melintas dengan menenteng sepatunya. Memainkan air yang jatuh di lantai putih keramik koridor sekolah. Gadis itu sudah hendak menyapa. Hanya saja tubuhnya berkhianat dan memilih diam. Sapaan buat teman objek dinamisnya yang meluncur dengan mulus. Objek dinamisnya menghentikan langkah. Terpaku beberapa detik menanggapi sapaan yang muncul dengan ringan ke udara. Entah apa yang dipikirkan objek dinamisnya itu. Gadis itu menyesal. Berpikir keras tentang apa yang sudah melintas di pikiran.
                Perasaannya masih sama, disimpan rapi dalam sebuah kotak kayu cokelat. Tanpa sebuah pengakuan dan pertunjukan.  
 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template