Di luar sepertinya hujan turun.
Ada bunyi gemericik dan nyanyian air yang membentur genting. Ada air yang jatuh
menimpa tanah. Menimbulkan genanngan
yang basah berwarna kecoklatan. Hawanya menjadi dingin. Meski tak sedingin
perasaan yang hampir mendatar dari semula berbentuk kurva. Ada seorang gadis
yang diam-diam menikmati nyanyian hujan. Sendirian. Tersenyum dengan sorot mata
menerawang.
Perasaannya campur aduk. Mereka
bilang dia hanya mencintai dirinya sendiri sampai-sampai tak mau
mengutarakannya barang sedikit saja. Hatinya bilang perasaannya bukan sesuatu
yang bisa diceritakan dengan gamblang. Mereka bilang sudah bukan jamannya kaum
perempuan hanya menunggu, tak ada salahnya bicara dahulu. Hatinya bilang ia tak
mampu. Mereka bilang perasaan yang dipunyai seorang gadis kepada seorang lelaki
tak seharunsya dikatakan. Sebab itu gadis yang berani mengatakannya pastilah
punya perasaan yang tulus. Hatinya bilang perasaannya disimpan saja. Gadis itu
bimbang. Terdiam dalam kebimbangan dalam detik-detik yang berjalan amat lambat.
Hatinya lebih kuat berkuasa rupanya.
Bibirnya membentuk bulan sabit
yang indah dalam bidang horizontal. Matanya menyipit. Ingatannya melambung jauh
kepada seorang laki-laki yang selama ini menjadi bunga tidurnya. Setiap
gerak-geriknya ia hafal tanpa cacat sedikitpun. Kebiasaan yang tak diketahui orang lainpun dia tahu. Bahkan lagu derap langkahnya ia rekam dengan jelas di
kepalanya. Sepertinya wangi laki-laki itu ada di setiap inci udara yang ia
hirup.
Tatapannya terpaku pada objek
dinamis yang melintas di hadapannya. Menghentikan kerja otaknya. Melumpuhkan
setiap detak jantung serta hela nafas yang harusnya terus berlangsung. Kedua
bola matanya lekat pada satu objek yang akrab dengan rentetan senar bernanyi.
Serta lubang resonansi yang memantulkan nada dengan sempurna. Tenggorokannya
sering kali tercekat melihat laki-laki itu. Lidahnya tak pernah mampu
mengeluarkan kata-kata apapun dihadapan laki-laki itu. Hanya sisa-sisa terangnya
bulan sabit di bidang horizontal yang tersembunyi dan menyembul ke permukaan
dengan jelas. Hanya bulan setengah yang muncul setelah si gadis melihat objek
dinamisnya itu.
Konspirasi alam yang menjadikannya satu dunia
dengan objek dinamisnya berlalu begitu saja. Gadis itu tak pernah merasa punya
momen yang tepat untuk memulainya. Gadis itu tak pernah merasa punya keberanian
yang cukup buat mengutarakannya. Konspirasi alamnya melekat kuat menghuni satu
tempat yang rapi di hidupnya. Sebuah kotak kayu cokelat yang menyimpan semuanya
layaknya ingatan. Sebuah kotak kayu cokelat yang menyimpan rapi setiap detik
ingatannya akan obejk dinamisnya.
Hujan turun lebih deras. Objek dinamisnya
melintas dengan menenteng sepatunya. Memainkan air yang jatuh di lantai putih
keramik koridor sekolah. Gadis itu sudah hendak menyapa. Hanya saja tubuhnya
berkhianat dan memilih diam. Sapaan buat teman objek dinamisnya yang meluncur
dengan mulus. Objek dinamisnya menghentikan langkah. Terpaku beberapa detik
menanggapi sapaan yang muncul dengan ringan ke udara. Entah apa yang dipikirkan
objek dinamisnya itu. Gadis itu menyesal. Berpikir keras tentang apa yang sudah
melintas di pikiran.
Perasaannya masih sama, disimpan
rapi dalam sebuah kotak kayu cokelat. Tanpa sebuah pengakuan dan pertunjukan.