Selamat malam
dunia ! Tidak, aku tidak sedang menyapa dunia yang seringkali kusebut-sebut
dalam ceritaku yang sudah-sudah. Aku sedang menyapa dunia yang sebenarnya.
Tempat yang sampai saat ini menurutku paling luas diantara tempat yang lainnya.
Sepertinya pikiranku sedang kacau sekali malam ini. Aku tahu apa alasannya,tapi
aku akan tetap mengatakan aku tak tahu dan aku baik-baik saja meski
kenyataannya aku sedang tidak baik-baik saja.
Baiklah,
kedengarannya memang aku sedang sangat lemah dan melebih-lebihkan sesuatu yang
sedang terjadi. Tak apa dunia, kau boleh mengejekku begitu saja. Aku akan
menerimanya. Aku tak akan menggerutu atau marah kepadamu seperti biasanya. Aku
sudah kehabisan tenaga untuk melakukannnya. Aku bahkan mulai mengkhawatirkan
bagian diriku yang menanggapi banyak hal tanpa ekspresi apapun. Bukan aku yang
dengan seenaknya cemberut ketika ada hal yang tak sesuai rencanaku. Aku lebih
banyak menerimannya dan mengalah. Aku yang biasanya cengeng untuk sebuah drama
dan cerita sekarang sudah tidak melakukannya. Biasa saja. Ini sangat bukan aku.
Tapi tak apa, emosiku lebih bisa dikendalikan belakangan ini.
Baiklah dunia
kau boleh menertawakanku dengan keadaanku hari ini. Aku patah hati. Tertawalah
sekencang-kencangnya dunia. Aku yang biasanya nampak kuat akhirnya tumbang
juga. Hanya karena seseorang yang mulai dipertanyakan keberadaannya dan hatinya
belakangan ini. Sudahlah dunia, kau tahu pasti orangnya. Aku tak perlu
menyebutkan sebuah nama dihadapanmu. Kau mengenalnya dan bersahabat dengan
segala rahasia serta cerita yang disimpannya sendiri.
Aku heran
dunia, aku bahkan tak menangis buat hati yang patah seperti ini. Semoga saja
hati yang patah masih bisa diperbaiki. Biar aku bisa tertawa lepas lagi dan
mengabaikan kenangan yang sudah dilewati. Aku bahkan bingung bagaimana
menceritakannya. Tapi aku berhasil menumpahkannya malam ini. Diantara langit
malam yang berbalik jadi terang menyambut hari yang sudah berganti. Detik jam
digital yang berdenting perlahan menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh
menit lebih. Ceritanya baru saja dimulai. Mencapai klimaks lalu dibubarkan
waktu untuk pulang. Ditemani sebotol soda yang diminum tiga orang bersamaan.
Dengan ekspresi wajah yang berubah-ubah serta tawa yang menyertai cerita. Rasa
ingin tahu yang bisa menjadikan obrolan pertama bukanlah alasan untuk saling
menukar cerita hati. Dan begitulah dunia, cerita lama yang dibiarkan begitu
saja menyita perhatian dengan amat sangat menyiksa. Biarlah saja. Selesaikan
jika bisa. Tutup saja jika memang tidak ada lagi yang perlu dikatakan.
Begitukah dunia ? Sayangnya aku belum ikhlas sepenuhnya. Tertawakan aku yang
sok tegar kali ini dunia. Aku terjatuh juga. Akhirnya.
Tampaknya ada
tempat yang salah kutempati. Harusnya aku tidak disini. Sebaiknya aku lekas
pergi. Begitukah dunia ? Ah sudahlah.
Selamat malam
dunia, semoga harimu menyenangkan. Jangan lelah dulu sampai aku memulai cerita
yang lain. Tunggu aku sampai aku mampu mencapaimu ! Doakan aku dunia, aku akan
baik-baik saja. Pasti !