Selasa, 20 Mei 2014
Selamat malam
Harusnya ini jadi surat ke tujuh belas yang muncul di blog kesayanganku. Sayangnya ada surat yang tak kupasang disini. Entah karena waktu atau mungkin ada hal yang sudah tidak bisa kamu baca. Mungkin juga harusnya masih ada surat selanjutnya. Surat ke dua puluh atau entah surat ke berapa buatmu. Tapi sudahlah. Dunia sudah berubah rupanya. Aku pun begitu. Begitu pula kamu. Aku tidak tahu dimana letak hubungan surat ini dengan surat yang lalu sampai aku harus menulis sebuah surat lagi buatmu. Jujur saja ini sangat berbeda dari surat yang sudah-sudah.
Aku akan bercerita sedikit. Aku belum menangis. Sama sekali. Mungkin juga tidak akan. Sahabatku bilang sebaiknya dan seharusnya aku menangis. Bagaimana tidak ? Ketika perasaanku membuncah keadaan berbalik arah. Saat perasaanku mulai mampu mengendalikan isi kepala, dunia berubah. Terakhir, saat keputusanku sudah mantap, ceritanya punya alur berbeda dari apa yang kupikirkan dan kubayangkan sebelumnya. Dataku sudah valid. Sayangnya analisa yang kulakukan salah. Akibatnya prediksiku tak tepat. Berakhir dengan pengambilan keputusan yang mungkin saja salah. Tapi aku tahu jika ini sudah waktunya untuk berhenti melakukan pengolahan data serta pengambilan keputusan.
Sebaiknya dan seharusnya aku menangis. Tapi aku sama sekali tak melakukannya. Perasaan dan logikaku tak sejalan. Pikiran di kepalaku sudah memberikan pernyataan bahwa aku tak boleh menangis. Perasaanku bilang sudah waktunya mengeluarkan air mata. Sekali saja. Aku lebih memilih logikaku. Lagipula , dulu ada laki-laki sok tau yang mengatakan padaku kenapa aku tak bisa menangisi seorang laki-laki. Padahal saat itu yang kutangisi adalah laki-laki terbaik nomor satu buatku. Tentu saja, pahlawan bagi setiap putri kecil diluar sana. Superman paling eksklusif yang tak bisa terbang tapi paling penyayang.
Sebenarnya banyak yang ingin aku katakan kepadamu. Mungkin juga ada sederet paragraf yang ingin kamu sampaikan kepadaku. Seperti katamu sebelumnya. Sepertinya sederet paragraf itu sudah menguap isinya. Entah kemana. Dimakan kesempatan yang usang dan disia-siakan. Isi sederet paragraf itu terlupakan dan terkubur pelan-pelan dengan debu-debu pikiran lain yang bertiup tanpa sadar. Tak apa. Biar saja. Mungkin jika sudah waktunya isi paragraf itu akan kembali. Seperti surat yang tiba-tiba sampai dihadapanmu lagi.
Aku masih menunggu sejujurnya. Menunggu sederet paragraf itu untuk menemui tujuannya. Tapi entah sampai kapan aku mampu. Aku sadar benar bahwa banyak hal sudah terlewatkan begitu saja hanya dengan sebuah penantian. Aku harus berhenti. Tapi diam yang menyusup pelan-pelan mulai membunuh sebuah percakapan dan pertemanan. Jika saja ada sebuah benda bernama kepastian maka akan lebih mudah mengatakannya. Jika ada sebuah benda bernama kepastian akan lebih mudah menyebut apa yang sedang terjadi sebenarnya. Mungkin aku akan menyebutnya sebuah pertengkaran kecil. Sayangnya ini bukan hal semacam itu. Benda itu pun tak ada. Menurutku akan lebih mudah menyebutnya, mengalaminya serta menyelesaikannya, itu saja.
Aku sudah tidak mampu berkata-kata. Aku sedang memikirkan banyak hal. Jujur sajaada satu dua hal tentangmu yang melintas. Tapi lebih banyak hal lain. Maaf saja, aku sedang tak berperasaan. Logikaku sedang berkuasa meski aku perempuan.
Label:
belajar nulis