Selasa, 06 Mei 2014

kriiiing kriiiing selamat pagi, ada surat mas !


“Selamat pagi mas, ini ada surat untuk mas. Ah ya, ada yang harus saya sampaikan pula. Kata pengirimnya, mungkin surat yang selnajutnya akan datang lebih lama dari biasanya. Saya tidak tahu apa yang terjadi pada pengirimnya, yang jelas surat yang selanjutnya akan datang dalam waktu yang lebih lama. Itu saja mas. Satu lagi, kata pengirimnya jika mas tidak berkenan menerima dan membacanya mas bisa mengembalikannya atau membuangnya mas. Terimakasih, selamat pagi.


May , 5th 2014
Selamat malam
Ini kali pertama aku bingung harus memulai suratku darimana. Sepertinya banyak hal yang sama-sama menyita perhatianku dan kamu belakangan ini. Sedikit banyak mengubah kebiasaan dan arah langkah yang biasanya kita jalani. Jadi beginilah aku dan kamu hari ini. Lupakan saja postingan terakhirku yang sengaja kutujukan buatmu. Dan surat ini, jika kamu tidak berkenan membacanya hentikan saja. Aku tak pernah keberatan dengan hal itu. Surat-surat yang lalu memang menjadi pintaku untuk kamu baca. Terimakasih untuk tidak sengaja memenuhi pintaku dan membacanya.
Aku akan mempermasalahkan salah satu kalimat yang pernah kamu lontarkan kepadaku. Kalimat yang nampaknya jadi bumerang buatku hari ini. Kalimat yang hari itu menurutku cukup mengagumkan. Aku dan kamu bertahan di titik ini. Tak sedekat jemari juga tak sejauh langkah kaki. Aku mengingat apa yang kuinginkan belakangan yang mungkin sudah terbaca sebelum aku mengatakannya. Itu kelebihanmu. Bukan kalimatku yang menyatakannya secara langsung. Aku bahkan belum sempat menanyakannya. Kamu sudah punya pernyataan lain yang cukup membuatku terdiam kala membacanya.
Jika menurutmu ketakutanmu menyakitiku adalah sebuah alasan yang pantas dilontarkan, kenyataan yang ada hanyalah luka kecil yang muncul perlahan. Aku tak apa. Aku mulai paham bagaimana resikonya punya harapan dan jatuh lumayan dalam. Aku sudah memikirkannya saat aku mulai menghabiskan banyak waktuku bersamamu. Menuliskan hal-hal kecil yang tak terkatakan. Mengabadikan kenangan dengan caraku sendiri. Menggambarkan banyak hal dengan catku sendiri. Dan kamu pula yang membuatku memutuskan untuk bermain-main dan mulai serius dengan sebuah perasaan.
Aku belajar menghargai apa yang kamu inginkan. Aku pun begitu, belajar untuk jatuh lebih dalam ke dalam hal lain. Menenggelamkan diri dalam kesibukan. Mencoba mengalihkan perhatian. Bermain-main lagi selayaknya aku sebelumnya. Aku tak apa meski sulit untuk percaya aku baik-baik saja.
Jadi, kebebasan seperti apa yang ingin kamu lakukan? Mungkin akan menyenangkan jika aku ikut mencobanya. Bersenang-senanglah. Masih banyak waktu untuk dihabiskan dengan baik.
Kadang menyenangkan tak perlu mengatakan apa-apa tapi kamu sudah tahu apa yang ingin kukatakan. Tapi kadang kamu perlu mendengarnya sesekali dariku sendiri. Aku perlu menanyakannya padamu. Apa anggapan mereka terhadap aku dan kamu benar adanya? Siapa aku bagimu dan bagaimana aku menurutmu? Tapi sudahlah, jawabanmu bisa jadi tak penting lagi. Katakan saja jika kamu ingin aku mendengarnya. Aku sama sekali tak keberatan.
Aku tahu surat ini akan membawa sebuah perubahan lain diantara aku, kamu dan apa yang sudah terjadi sebelumnya. Aku tak ingin berubah sebenarnya, tapi sudahlah, jika kamu punya kalimat yang sama tentang perubahan itu, anggap saja surat ini tak pernah ada. Tak pernah kutulis buatmu. Hanya bualan imajinasiku atau hanya cerita pengisi malam ketika aku mulai kehilangan rasa kantuk.
Selamat malam. Semoga apa yang kukatakan tak banyak merubah hal. Tetap menjadikan aku dan kamu tak sedekat jemari dan tak sejauh langkah kaki. Tetap saling bercerita dan menatap senja yang sama. Ohya, bisakah kau memberitahuku penjual nasi goreng dua porsi waktu itu? Aku lupa jalan kesana dan aku ingin makan disana kapan-kapan.
Aku
 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template