“Selamat
pagi mas, ini ada surat untuk mas. Ah ya, ada yang harus saya sampaikan pula. Kata
pengirimnya, mungkin surat yang selnajutnya akan datang lebih lama dari
biasanya. Saya tidak tahu apa yang terjadi pada pengirimnya, yang jelas surat
yang selanjutnya akan datang dalam waktu yang lebih lama. Itu saja mas. Satu lagi,
kata pengirimnya jika mas tidak berkenan menerima dan membacanya mas bisa
mengembalikannya atau membuangnya mas. Terimakasih, selamat pagi.”
May , 5th 2014
Selamat malam
Ini kali pertama aku bingung harus memulai
suratku darimana. Sepertinya banyak hal yang sama-sama menyita perhatianku dan
kamu belakangan ini. Sedikit banyak mengubah kebiasaan dan arah langkah yang
biasanya kita jalani. Jadi beginilah aku dan kamu hari ini. Lupakan saja
postingan terakhirku yang sengaja kutujukan buatmu. Dan surat ini, jika kamu
tidak berkenan membacanya hentikan saja. Aku tak pernah keberatan dengan hal
itu. Surat-surat yang lalu memang menjadi pintaku untuk kamu baca. Terimakasih
untuk tidak sengaja memenuhi pintaku dan membacanya.
Aku akan mempermasalahkan salah satu kalimat
yang pernah kamu lontarkan kepadaku. Kalimat yang nampaknya jadi bumerang
buatku hari ini. Kalimat yang hari itu menurutku cukup mengagumkan. Aku dan
kamu bertahan di titik ini. Tak sedekat jemari juga tak sejauh langkah kaki.
Aku mengingat apa yang kuinginkan belakangan yang mungkin sudah terbaca sebelum
aku mengatakannya. Itu kelebihanmu. Bukan kalimatku yang menyatakannya secara
langsung. Aku bahkan belum sempat menanyakannya. Kamu sudah punya pernyataan
lain yang cukup membuatku terdiam kala membacanya.
Jika menurutmu ketakutanmu menyakitiku adalah
sebuah alasan yang pantas dilontarkan, kenyataan yang ada hanyalah luka kecil
yang muncul perlahan. Aku tak apa. Aku mulai paham bagaimana resikonya punya
harapan dan jatuh lumayan dalam. Aku sudah memikirkannya saat aku mulai
menghabiskan banyak waktuku bersamamu. Menuliskan hal-hal kecil yang tak
terkatakan. Mengabadikan kenangan dengan caraku sendiri. Menggambarkan banyak
hal dengan catku sendiri. Dan kamu pula yang membuatku memutuskan untuk
bermain-main dan mulai serius dengan sebuah perasaan.
Aku belajar menghargai apa yang kamu inginkan.
Aku pun begitu, belajar untuk jatuh lebih dalam ke dalam hal lain.
Menenggelamkan diri dalam kesibukan. Mencoba mengalihkan perhatian.
Bermain-main lagi selayaknya aku sebelumnya. Aku tak apa meski sulit untuk
percaya aku baik-baik saja.
Jadi, kebebasan seperti apa yang ingin kamu
lakukan? Mungkin akan menyenangkan jika aku ikut mencobanya.
Bersenang-senanglah. Masih banyak waktu untuk dihabiskan dengan baik.
Kadang menyenangkan tak perlu mengatakan
apa-apa tapi kamu sudah tahu apa yang ingin kukatakan. Tapi kadang kamu perlu
mendengarnya sesekali dariku sendiri. Aku perlu menanyakannya padamu. Apa
anggapan mereka terhadap aku dan kamu benar adanya? Siapa aku bagimu dan
bagaimana aku menurutmu? Tapi sudahlah, jawabanmu bisa jadi tak penting lagi.
Katakan saja jika kamu ingin aku mendengarnya. Aku sama sekali tak keberatan.
Aku tahu surat ini akan membawa sebuah
perubahan lain diantara aku, kamu dan apa yang sudah terjadi sebelumnya. Aku
tak ingin berubah sebenarnya, tapi sudahlah, jika kamu punya kalimat yang sama
tentang perubahan itu, anggap saja surat ini tak pernah ada. Tak pernah kutulis
buatmu. Hanya bualan imajinasiku atau hanya cerita pengisi malam ketika aku
mulai kehilangan rasa kantuk.
Selamat malam. Semoga apa yang kukatakan tak
banyak merubah hal. Tetap menjadikan aku dan kamu tak sedekat jemari dan tak
sejauh langkah kaki. Tetap saling bercerita dan menatap senja yang sama. Ohya,
bisakah kau memberitahuku penjual nasi goreng dua porsi waktu itu? Aku lupa
jalan kesana dan aku ingin makan disana kapan-kapan.
Aku