Jumat, 30 Mei 2014

Perempuan itu #1


Cerita berikut merupakan sebuah dongeng dari dunia antah berantah. Tokohnya seorang perempuan muda. Tokoh keduanya seorang laki-laki yang juga masih muda. Keduanya tokoh ini hanya selisih satu tahun dari segi usia. Laki-laki muda itu lebih tua dari si perempuan.  
Beberapa puluh hari yang lalu bisa jadi beberapa puluh hari yang berarti bagi perempuan itu. Baginya beberapa puluh hari yang lalu nampak seperti sosok gadis kecil yang suka main jungkat-jugkit. Atau justru ayunan. Menempati titik paling tinggi lalu dilemparkan ke dasar yang tak bernama jurang. beberapa puluh hari yang sudah-sudah menurutnya kadang tak bisa dipercaya. Menyenangkan memang. Tapi perempuan itu juga tak pernah berbohong tentang setiap hal yang membuatnya hampir menangis. Hampir. Perempuan itu bahkan tak sempat mengeluarkan air mata. Perempuan itu terlanjur larut ke dalam banyak hal buat menghapuskan setiap sesak ceritanya. Setiap keinginan yang tak dipahaminya.
Perempuan itu bercerita kepadaku bahwa ia sendiri kadang tak paham dengan awal beberapa puluh harinya. Entah itu hanya kejahilannya. Atau memang seseorang yang tersentuh olehnya. Yang jelas perempuan itu masih tak habis pikir. Hanya saja perempuan itu mulai berhenti bertanya-tanya apa dan bagaimana. Baginya khayalan serta mimpinya terlalu tinggi. Terlalu jauh untuk digapai sendiri. Cerita ini bagian dari caranya menghabiskan dan memindahkan setiap memori yang tersisa di sudut-sudut ruang ceritanya.
Hal yang ia pikirkan terakhir kali adalah betapa ia sudah menempati posisi yang salah. Seakan-akan benar ia yang seharusnya berada di posisi itu. Perempuan itu tak pernah mau mengenakan sebutan khusus dalam cerita ini meski ia ingin sekali. Dan aku sendiri juga yakin akan sebutan itu akan mempermudah setiap orang yang membaca cerita ini akan lebih mudah mencernanya.  Menurutnya jika ada sebutan yang pas buat posisinya maka sudah sejak tadi ia mengatakannya kepadaku. Perempuan itu dekat dengan seorang laki-laki yang seusia dengannya. Katakan saja begitu.
Dari sudut pandang perempuan itu, ia berhasil ditempatkan di posisi istimewa yang diinginkan perempuan lain seusianya. Diperlakukan begitu berbeda dan diistimewakan tentu saja. Dan begitulah, karena menurutnya posisi yang ditempatinya tak tepat maka ada wkatu baginya untuk menyudahi dan kembali ke tempat yang seharusnya. Hanya saja akhir ceritanya tak menyenangkan. Diliputi tanda tanya yang tak terjawab dan dibiarkan begitu saja. Memang mau apa lagi ? Jika sudah waktunya berhenti maka berhenti saja. Tidak ada alasan yang harus diberikan. Tak punya sesuatu untuk dipertahankan. Lagipula yang lain menganggapnya sebagai permainan. Sudahlah. Masih banyak hal yang harus dilakukan.
Perempuan itu menceritakan banyak hal. Hanya saja aku tak menemukan kalimat yang tepat untuk menggambarkannya. Seperti ini, menurutnya ada yang harus diperbaiki dari posisi yang sudah ia tempati. Menurutnya harus ada seseorang yang membuatnya mengerti kenapa ia harus berada di posisi itu. Dari sudut pandangnya, seseorang itu tetap hanya akan memandang cerita ini dari sudut pandangnya bukan dari sudut pandang perempuan itu. Entah alasan apa yang seseorang itu simpan sendiri dan tak mau membaginya. Entah alasan apa yang menjadikan ceritanya seperti ini.
Hari ini perempuan itu sudah punya cerita lain untuk diutarakan. Menurutnya seseorang itu juga pantas bahagia. Jadi biar saja ia sibuk dengan ceritanya. Mungkin suatu hari nanti seseorang itu akan tahu bagaimana cara mengutarakan apa yang sudah disimpannya sendiri. Sudahlah. Cerita ini akan berakhir disini. Akan ada cerita yang lain setelahnya.

 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template