Cerita
berikut merupakan sebuah dongeng dari dunia antah berantah. Tokohnya seorang perempuan muda.
Tokoh keduanya seorang laki-laki yang juga masih muda. Keduanya tokoh ini hanya
selisih satu tahun dari segi usia. Laki-laki muda itu lebih tua dari si perempuan.
Beberapa puluh hari yang lalu bisa jadi beberapa puluh hari
yang berarti bagi perempuan itu. Baginya beberapa puluh hari yang lalu nampak
seperti sosok gadis kecil yang suka main jungkat-jugkit. Atau justru ayunan.
Menempati titik paling tinggi lalu dilemparkan ke dasar yang tak bernama
jurang. beberapa puluh hari yang sudah-sudah menurutnya kadang tak bisa dipercaya.
Menyenangkan memang. Tapi perempuan itu juga tak pernah berbohong tentang
setiap hal yang membuatnya hampir menangis. Hampir. Perempuan itu bahkan tak
sempat mengeluarkan air mata. Perempuan itu terlanjur larut ke dalam banyak hal
buat menghapuskan setiap sesak ceritanya. Setiap keinginan yang tak
dipahaminya.
Perempuan itu bercerita kepadaku bahwa ia sendiri kadang
tak paham dengan awal beberapa puluh harinya. Entah itu hanya kejahilannya.
Atau memang seseorang yang tersentuh olehnya. Yang jelas perempuan itu masih
tak habis pikir. Hanya saja perempuan itu mulai berhenti bertanya-tanya apa dan
bagaimana. Baginya khayalan serta mimpinya terlalu tinggi. Terlalu jauh untuk
digapai sendiri. Cerita ini bagian dari caranya menghabiskan dan memindahkan
setiap memori yang tersisa di sudut-sudut ruang ceritanya.
Hal yang ia pikirkan terakhir kali adalah betapa ia sudah
menempati posisi yang salah. Seakan-akan benar ia yang seharusnya berada di
posisi itu. Perempuan itu tak pernah mau mengenakan sebutan khusus dalam cerita
ini meski ia ingin sekali. Dan aku sendiri juga yakin akan sebutan itu akan
mempermudah setiap orang yang membaca cerita ini akan lebih mudah
mencernanya. Menurutnya jika ada sebutan
yang pas buat posisinya maka sudah sejak tadi ia mengatakannya kepadaku.
Perempuan itu dekat dengan seorang laki-laki yang seusia dengannya. Katakan
saja begitu.
Dari sudut pandang perempuan itu, ia berhasil ditempatkan
di posisi istimewa yang diinginkan perempuan lain seusianya. Diperlakukan
begitu berbeda dan diistimewakan tentu saja. Dan begitulah, karena menurutnya
posisi yang ditempatinya tak tepat maka ada wkatu baginya untuk menyudahi dan
kembali ke tempat yang seharusnya. Hanya saja akhir ceritanya tak menyenangkan.
Diliputi tanda tanya yang tak terjawab dan dibiarkan begitu saja. Memang mau
apa lagi ? Jika sudah waktunya berhenti maka berhenti saja. Tidak ada alasan
yang harus diberikan. Tak punya sesuatu untuk dipertahankan. Lagipula yang lain
menganggapnya sebagai permainan. Sudahlah. Masih banyak hal yang harus
dilakukan.
Perempuan itu menceritakan banyak hal. Hanya saja aku tak
menemukan kalimat yang tepat untuk menggambarkannya. Seperti ini, menurutnya
ada yang harus diperbaiki dari posisi yang sudah ia tempati. Menurutnya harus
ada seseorang yang membuatnya mengerti kenapa ia harus berada di posisi itu. Dari
sudut pandangnya, seseorang itu tetap hanya akan memandang cerita ini dari
sudut pandangnya bukan dari sudut pandang perempuan itu. Entah alasan apa yang
seseorang itu simpan sendiri dan tak mau membaginya. Entah alasan apa yang
menjadikan ceritanya seperti ini.
Hari ini perempuan itu sudah punya cerita lain untuk
diutarakan. Menurutnya seseorang itu juga pantas bahagia. Jadi biar saja ia
sibuk dengan ceritanya. Mungkin suatu hari nanti seseorang itu akan tahu
bagaimana cara mengutarakan apa yang sudah disimpannya sendiri. Sudahlah.
Cerita ini akan berakhir disini. Akan ada cerita yang lain setelahnya.