Tampilkan postingan dengan label LetterIWriteToYou. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LetterIWriteToYou. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Februari 2014

To :


Kepadamu yang muncul dimimpiku semalam
                Tidurku tak nyenyak sejujurnya. Ada mimpi yang mengusikku. Entah siapa yang datang menghampiriku dalam mimpi. Ada senyum yang membuatku berdebar tak karuan. Ada tawa yang muncul bersamaan. Ada kalimat-kalimat yang kurindukan. Ada seseorang yang berdiri dihadapanku. Ada serentetan kalimat yang muncul hanya dalam harapan.
                Aku tertawa sendiri. Aku menangis sendiri. Aku berharap sendiri. Aku bahagia sendiri. Aku terpuruk sendiri. Aku rindu sendiri. Aku ingat apa yang ada dimimpiku semalam. Aku ingat apa yang benar-benar kurindukan.
                Aku ingat apa yang kurindukan. Aku ingat apa yang kumimpikan. Kamu.
Aku yang memimpikanmu semalam

To :


Kepadamu muara dari segala rindu
Rintik rindu menjadi aliran bak air bah. Tanahku tak lagi sepi nan gundah. Tanahku riuh dengan air bah kerinduan. Tetesan rindu menggenang membasahi langkah. Menghantarkan setiap jengkal perasaan yang terjejak di tanah. Rintik rinduku takkan menghapus jejak perasaan ini. Rintik rinduku hanya mempertebal jejaknya. Mencoba meyakinkan seseorang yang sedang menapaki jejak-jejak itu.
Rintik rinduku membawaku pulang. Menjadikan harapan dari setiap kalimat untuk keluar dari segaris bibirmu itu. Aku merindukanmu. Aku berharap alam mau berkonspirasi denganku sekali ini saja untuk menjadikan aku dan kamu dalam ruang dan waktu yang sama.
Kepadamu hulu atas segala rindu, aku ingin bertemu. Aku ingin menyapamu. Menatap lagi senyum yang biasa kau tanggalkan di wajahmu. Aku ingin bertemu. Ada yang ingin ku sampaikan. Ada gelombang perasaan yang menuntut sebuah pernyataan. Aku merindukanmu. Aku ingin bertemu.   
Aku, rintik rindu yang mencari muaranya.

Minggu, 09 Februari 2014

To :


Kepadamu yang mungkin saja dikirimkan tuhan buatku
Aku pernah berdoa kala itu biar tuhan menempatkanmu disampingku. Berjarak beberapa hembusan nafas saja dariku. Hanya saja tuhan tak mengabulkannya hari itu. hari ini tuhan mengatakannya padaku, Ia menempatkanmu beberapa ratus hembusan nafas denganku. Entah esok atau lusa, aku dan kamu akan berada di satu kota yang sama. untuk kedua kalinya.
Tuhan mengirimkan isyaratnya buatku. Agar aku tak hanya berputar di pusaran yang sama dalam waktu yang lama. Tuhan mengirimkan ceritanya biar aku memutuskan untuk masuk ke dalam pusaran itu atau malah menjauh. Aku hanya harus menunjukkannya kepadamu.  
                Tetap saja, pusaran itu kamu.
Aku yang menempatkanmu diantara doaku

Sabtu, 08 Februari 2014

To :


Kepadamu yang memainkan senar-senar terikat yang menyanyikan sebuah nada, kata orang aku bisa saja menangis jika mendengar senar-senar itu dimainkan hanya buatku. Kata orang aku akan sangat terharu jika ada yang memainkannya buatku. Aku akan merasa sangat beruntung. Kata orang aku akan ..
                Kepadamu yang memainkan senar-senar itu di pojok ruangan hanya berdua, orang bilang apa yang kau mainkan sangatlah istimewa. Bagiku itu lebih dari sekedar istimewa. Tapi maaf aku tak memberikan apresiasi yang tepat buat permainanmu itu. hari ini, mendengar apa yang kau mainkan aku justru menangis. Bukan, sama sekali bukan karena permainanmu tak menyenangkan. Itu justru sangat menyenangkan, menenangkan bahkan. Aku senang hanya dengan mengingatnya.
                Kepadamu yang memainkan rentetan nada yang sama di tempat yang berbeda. Hanya berdua. Terimakasih. Aku menangis lagi. Tanpa alasan. Tanpa sebab. Tidak, tentu saja bukan karena apa yang kau mainkan menyedihkan, buatku itu terlalu berharga buat dilewatkan begitu saja.
                Aku tahu meski itu bukan untukku aku tetap saja menangis. Hanya saja, perasaan yang tersimpan ini serta rentetan nadamu itu cukup membuat semuanya memaksa keluar. Hanya saja aku tak bisa mengeluarkan semuanya. Hanya saja aku bukan seorang penyimpan rahasia yang baik. Hanya saja aku jatuh kepadamu yang memainkan rentetan nada itu disana tanpa kutahu untuk siapa.
Aku yang merindukan rentetan nadamu

Jumat, 07 Februari 2014

To :


Kepadamu rangkaian nada-nada yang menemaniku setiap pagi
            Entah kenapa simfoni di pagi hari ini tak seperti simfoni yang biasanya kudengarkan. Membawaku lebih hanyut ke dalam tinggi rendahnya nada. Menenggelamkanku dalam naik turunnya frekuensi. Aku pun menyadari, ini simfonimu, bukan simfoniku yang biasanya.
            Pagi ini ada tatapan yang tak biasanya. Ada dua pasang bola mata yang saling bercerita tanpa kata-kata. Ada dua pasang bola mata yang menyapa tanpa suara. Ada dua pasang bola mata yang saling bertanya. Ada sepasang bola mata yang berharap untuk bisa bernyanyi simfoni yang sama setiap waktunya.
            Simfoni pagi, sepasang bola mata coklat, kamu.
Aku, sepasang bola mata yang berharap menyanyikan simfoni pagi 

Kamis, 06 Februari 2014

To :


Kepadamu rantai-rantai mimpi yang menggantung diatas kepalaku
            Aku melihatmu. Tinggi. Jauh. Tanganku menggapai. Tapi tak sampai. Aku menatapmu. Rantai-rantai mimpi yang menggantung diatas kepalaku.
            Aku menyebut namamu dalam sebuah doa. Semoga Tuhan mau mengabulkannya. Aku meminta sebuah nama dalam sebongkah doa. Semoga Tuhan mau memberikannya. Aku memanggil sebuah nama dalam seucap doa. Semoga Tuhan mau menyampaikannya. Aku terjebak dengan sebuah nama. Nama yang sama sejak hari itu. Nama yang sama dalam sebuah pusaran. Nama yang sama pada satu dunia.
            Nama yang sama setiap harinya, doa yang sama setiap waktunya, mimpi yang menggantung diatas kepala, kamu.
Aku yang berdiri tepat di bawahmu

Rabu, 05 Februari 2014

To :


Kepadamu butiran ekstasi yang membuatku candu
            Aku dalam candu. Duniaku berbalik arah. Matahariku terbit bukan dari timur. Malamku jadi terang. Pagiku entah kenapa nampak seperti senja. Hujan naik ke atas. Gumpalan awan-awan putih ada di bawah, aku berdiri diatasnya. Tanahku diatas. Aku dalam candu, benar-benar candu.
            Aku tak bisa berhenti mellihatmu dari jauh. Aku tak bisa berhenti tersenyum melihatmu. Aku berhenti bernafas mendengar namamu. Aku tak bisa tak menanti derap langkahmu. Aku tak bisa berhenti menunggumu. Canduku menyakitkan. Canduku menyenangkan. Canduku tak terbang. Canduku tak tenang. Canduku kamu.       
Aku, pecandumu

Selasa, 04 Februari 2014

To :


Kepadamu secangkir cokelat panas di hari hujan
            Rintik hujan diluar menghabiskan niatku untuk beranjak. Menyisakan bau tanah basah yang kugemari sejak lama. Menggabungkan wangi rerumputan terinjak katak. Rintik hujan diluar menyisakan dingin yang menggigit. Hujan diluar menyisakan basah di semua permukaan.
            Menatap hujan meresonansikan kenangan yang ada di kepalaku. Secangkir cokelat panas melintas di depan secangkir espresso yang hanya tahu kehangatan. Tanpa mengerti ada sensasi lain yang bisa dikecap sang perasa. Secangkir cokelat panas yang dikelilingi cangkir-cangkir lain. Secangkir cokelat panas yang menarik perhatian espresso yang duduk sendirian. Secangkir cokelat panas yang mampu membuat espresso tak berkedip menatapnya.
            Secangkir espresso itu masih disana sampai secangkir cokelat panas itu beranjak. Secangkir espresso itu masih disana. Terjebak dalam kehangatan secangkir cokelat panas.
Aku, espresso di meja sebelah

Senin, 03 Februari 2014

To :


Kepadamu yang menjadikanku peka atas semua hal tentangmu
            Aku semakin mendekati pusaran itu. Menatapnya lebih seksama. Melihat apa yang ada disekitarnya, menyimpannya dalam ingatan. Menjadikannya pasokan jika nanti aku kehabisan bekal. Menyerap sebanyak-banyaknya sebelum aku tak mampu lalu menumpahkannya sia-sia. Aku ada selangkah lebih dekat.
            Selangkah lebih dekatku bernama senyumanmu. Selangkah lebih dekatku berkata ucapanmu. Selangkah lebih dekatku bernama bersamamu. Konspirasi alam kali ini membawaku selangkah dihadapanmu. Aku menyimpan senyumanmu yang kuyakini sebagai obat gangguan rindu. Aku menyimpan tawamu sebagai penjaga tidurku. Aku menyimpan setiap kalimatmu sebagai pengantar tidurku. Aku menyimpan hari ini sebagai bagian dari hidupku.
            Aku masih ada di pusaran yang sama. dalam nyanyian angin yang seksama. Diantara gemericik air yang tak jauh berbeda. Dalam pusaran itu, kamu.
Aku yang menyimpan senyumanmu

Minggu, 02 Februari 2014

To :


Kepadamu yang membuatku menahan nafas ketika mendengar sebuah nama
            Aku masih berputar di pusaran itu. Tak menjauh juga  tak mendekat. Entah sampai kapan pusaran itu menahanku dan bukannya menarikku untuk masuk ke dalamnya. Aku tak pernah tahu apa yang ada dalam pusaran itu. Aku hanya berputar-putar di sekitarnya. Gemericik air bahkan tak mampu membawaku masuk ke dalam pusaran itu. Tiupan angin juga tak bergeming dengan kehadiranku.
            Aku menatap sebuah nama. Nama yang sama sejak hari itu. Aku menatap satu subjek yang sama sejak hari itu. Aku berputar mengelilingi hal yang sama sejak hari itu. Aku tak menjauh juga tak mendekat. Aku hanya menatapnya dari jauh. Aku menahan nafas mendengar namnya disebut. Aku hanya berdiri jauh dari tempatnya. Sayangnya dia bukan hal yang bisa kutinggalkan begitu saja. Aku hanya berputar disekelilingnya. Tak mampu menjauh atau mendekat. Tak tahu harus apa dan bagaimana mengubah kedudukan.
            Pusaran itu. Nama itu. Subjek itu, kamu.
Aku yang sejak lama melihatmu

Sabtu, 01 Februari 2014

To :


Kepadamu yang menarik hatiku sejak hari itu
Aku tak pernah menyangka akan menjalani hari-hari yang seperti ini. Terjebak dalam satu pusaran perasaan yang aku sendiri tak tahu apa namanya. Aku sama sekali tak menamakannya sebuah permainan. Tapi ini menyenangkan. Aku juga tak menyebutnya sebagai kebohongan, hanya saja kadang aku merasa sakit. Tak rasional, hal yang membuatku bahagia dan sakit adalah hal yang sama. Satu subjek yang kusebut namanya dalam setiap doa, kamu.
Entah kapan tepatnya aku jatuh dan terbawa arus. Aku hanya tahu bahwa semakin hari aku semakin jauh dari tepi. Aku melihat sebuah pusaran besar kemudian. Aku tak melihat pusara itu sebagai pusaran yang berbahaya, aku menjemputnya. Tanpa ragu mendekati pusara itu. berputar-putar, tak menjauh tapi juga tak mendekat.
Aku yang menatapmu dari jauh

a journey to a story

kadang tak semua pembicaraan bisa menghantarkan sebuah perasaan karena hadirnya ketidakmampuan untuk mengutarakannya. untuk itu hadir rangkaian kata yang dihantarkan dengan cara yang berbeda. aku berharap suatu hari ada pak pos yang menghampiri rumahmu dan berkata "ada surat untuk mas" lalu kamu akan menjawab pak pos dengan pertanyaan sederhana tentang siapa pengirimnya. satu dua detik kemudian banyak pertanyaan mencuat dari benakmu. jangan khawatir atau justru berpikiran macam-macam, itu hanya aku yang sennag memnadangimu dari jauh yang mengirimkan surat buatmu sebagai tanda bahwa aku tidak mampu mengatakannya secara langsung.
ah yaa, rangkaian surat ini akan kutiupkan harapan sebelum sampai ke tanganmu. kamu pasti sudah tahu apa yang aku harapkan dengan adanya surat ini. tentu saja, aku berharap kau membacanya suatu hari nanti. 
 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template